MENGANYAM KETERAMPILAN 4 C DALAM ARSITEKTUR PEMBELAJARAN PROJEK (MANTRA PRO)

 

MENGANYAM KETERAMPILAN 4 C DALAM ARSITEKTUR 

PEMBELAJARAN PROJEK (MANTRA PRO)

Dra. FITRAN SARI, M.Pd

SMP NEGERI 2 MATARAM

 

 

A. RANCANG BANGUN

DASAR HUKUM :  UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa. Tujuan utamanya adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang kreatif dan mandiri, yang merupakan inti dari komponen 4C. Peraturan Pemerintah (PP) No. 4 Tahun 2022 Perubahan atas PP No. 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan. Peraturan ini menekankan bahwa Standar Kompetensi Lulusan (SKL) harus mencakup ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Keterampilan yang dimaksud mencakup kemampuan berpikir kritis dan bertindak kreatif melalui pendekatan ilmiah. Permendikbudristek No. 5 Tahun 2022, Peraturan ini mengatur tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) pada jenjang PAUD, Pendidikan Dasar, dan Menengah. Dalam aturan ini, fokus utama lulusan adalah memiliki profil yang mampu: Berpikir kritis dalam memecahkan masalah; Memiliki kreativitas dalam menghasilkan gagasan orisinal; Mampu bekerja sama (kolaborasi) dalam lingkungan sosial.

Permendikbudristek No. 7 Tahun 2022 Mengatur tentang Standar Isi. Standar isi dalam Kurikulum Merdeka dirancang untuk memberikan ruang bagi pengembangan kompetensi 4C melalui muatan pelajaran yang tidak hanya padat teori, tetapi juga berbasis proyek dan inkuiri; Keputusan Mendikbudristek No. 262/M/2022 Keputusan ini mengatur tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam rangka Pemulihan Pembelajaran (Kurikulum Merdeka). Di dalamnya, 4C diwujudkan melalui:Profil Pelajar Pancasila: Enam dimensi profil ini (seperti Bernalar Kritis dan Kreatif) adalah bentuk formal dari 4C; Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5): Kegiatan yang mewajibkan murid untuk melakukan Kolaborasi dan Komunikasi dalam menyelesaikan masalah nyata. Permendikbudristek No. 12 Tahun 2024 yang menetapkan Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum nasional secara resmi untuk PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah.Peraturan ini menegaskan bahwa pembelajaran harus berfokus pada pengembangan kompetensi (bukan sekadar penguasaan materi). Keterampilan 4C adalah pilar utama dari kompetensi yang dimaksud dalam Kurikulum Merdeka.

 

PERMASALAHAN 

Adanya pergeseran peran pendidik  dari instruktur menjadi fasilitator menjadi permasalahan bagi seorang pendidik.  Pada umumnya pendidik belum mampu melepas label instruktur sehingga langkah-langkah dalam pelaksanakan tugas projek yang sudah ditentukan dapat mematikan Critical Thinking dan Creativity murid.  Berdasarkan hasil observasi administrasi maupun proses pembelajaran di SMP N 2 mataram tahun 2024  diperoleh data bahwa dari  60 orang,  33%  mampu berperan sebagai fasilitator. Hal ini disebabkan murid masih perlu  bimbingan untuk melakukan langkah-langkah kegiatan sehingga pendidik lebih pro aktif dalam proses pembelajaran dibandingkan dengan murid. Selain itu pendidik masih kaku dalam hal penilaian.  Instrument yang disusun masih terkesan kurang fleksibel sehingga dapat mematikan ide-ide baru murid. Begitu juga terbatasnya kemampuan murid dalam berliterasi menyebabkan kesulitan dalam hal komunikasi (Communication) dan bekerjasama (Collaboration). Berdasarkan hasil observasi saat awal kegiatan pembelajaran di tahun ajaran 2024-2025 khusus di kelas 9, sebagai pendidik pengampu mata pelajaran IPA, memperoleh data bahwa dari 41-43 murid setiap kelas, maka yang mampu mengkomunikasikan hasil kegiatan pembelajaran dengan baik 35% (15 murid), sehingga murid inilah yang menguasai kegiatan KBM sedangkan sisa cenderung fasif dan selalu menunggu  jawaban dari murid yang aktif. Hal inilah yang mendorong pendidik untuk menggunakan ”Menganyam Ketrampilan 4 C dalam Arsitektur  Pembelajaran Projek (Mantra Pro)”, untuk mengaktifkan semua murid sehingga potensi dan rasa percaya diri muncul dengan berbagi peran sesuai skill yang dimiliki.

ISU STRATEGIS

Mengubah pola pikir ( minset ) pendidik yang melekat selama ini  dari satu-satunya sumber informasi menjadi pendidik sebagai  fasilitator atau pendamping murid sangat diperlukan sehingga pendidik harus mampu memposisikan diri sebagai fasilitator. Sesuai dengan amanat Kurikulum Merdeka bahwa pembelajaran berfokus pada pengembangan kompetensi  sehingga  pendidik harus mengemas  proses pembelajaran yang mendukung perkembangan keterampilan 4 C (Critical Thinking, Creativity, Collaboration, Communication). Keberhasilan penerapan keterampilan 4 C dalam proses pembelajaran  harus mencakup bagaimana murid berkolaborasi dan berkomunikasi selama proses, bukan hanya hasil akhir yang terlihat bagus secara visual, sehingga pengembangkan penilaian tidak hanya penilaian hasil, namun mengembangkan rubrik penilaian proses yang mencakup bagaimana murid berkolaraborasi dan berkomunikasi selama proses pembelajaran, sehingga dapat mengembangkan literasi murid termasuk literasi digital.

Selain itu Inovasi “MANTRA PRO”  yang dilakukan ini mendukung Visi dan Misi Kota Mataram,  dengan mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan nomor 4 pendidikan yang berkualitas. Selain itu sesuai dengan Asta Cita nomor 2,3,4  karena  memantapkan sistem pertahanan dan keamanan negara dan mendorong  kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru. Meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas, mendorong kewirausahaan, mengembangkan industri kreatif, dan melanjutkan pengembangan infrastruktur. Memperkuatkan pembangunan sumber daya manusia, Sains, teknologi, Pendidikan, kesehatan, prestasi olah raga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas. Sesuai dengan Misi kota mataram  tahun 2025 – 2029  yaitu  Pengguatan sumber daya manusia dengan program unggulan nomor 1 yaitu Pendidikan Unggul dan merata.

 

 

 

METODE PEMBAHARUAN 

Kegiatan pembelajaran pada SMP N 2 Mataram sudah cukup baik dan berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Namun sebagai pendidik perlu melakukan pembaharuan pembelajaran yang lebih mengaktifkan murid dalam kegiatan KBM dengan mengeksplorasi kemampuan yang dimilikinya. Metode lama yang lambat laun diharapkan dikurangi  yaitu metode ceramah beralih ke metode Eksprimen dengan model pembelajaran  Discovery Learning,  namun dalam penerapan metode dan model tersebut  sebagian murid tidak aktif  baik saat berdiskusi maupun presentasi.  Berdasarkan permasalahn tersebut, untuk lebih mengaktifkan siswa maka pendidik menggunakan metode Eksprimen menggunakan model pembelajaran projek menerapkan keterampilan 4 C. Pembaharuan ini mengarahkan murid untuk dapat menganalisis masalah (Critical Thinking) dengan menggunakan logika komputasi untuk membedah kompleksitas yaitu membedah projek besar menjadi sub projek kecil yang lebih terstruktur menggunakan metode Computational Thinking. Untuk memperoleh data yang valid murid dapat mewawancari ahli untuk memproleh informasi untuk mengerjakan projek sehingga melatih kreativitas, dapat menggunakan metode Design Thinking. Kolaboratif murid dilatih menggunakan metode Agile Scrum yaitu menetapkan target, adanya pertemuan singkat perkembangan projek. Metode Multimodal Storytelling untuk mengembangkan Communication murid dapat mengkomunikasikan hasil projek melalui berbagai platform (misalnya: video dokumenter di YouTube, infografis di Instagram, dan laporan interaktif di blog) serta melatih murid mempresentasikan ide secara persuasif dalam waktu singkat  di depan publik nyata.

TAHAP INOVASI

Tahapan mengimplementasikan 4C (Critical Thinking, Creativity, Collaboration, Communication) dalam Pembelajaran Berbasis Projek (PjBL) sebagai berikut:

1.         Tahap Inkuiri dan  Tantangan Nyata (Critical Thinking)

Pada tahap ini murid dapat mengientifikasi akar masalah, menggumpulkan data atau observasi lapangan (wawancara), merumuskan tantangan ke dalam bentuk pertanyaaan

2.         Tahap Brainstorming dan  Ideasi (Creativity)

Pada tahap ini murid menggumpulkan ide sebanyak mungkin tanpa batas tehnis atau biaya , Setelah ide terkumpul lalu melakukan seleksi dan selanjutnya membuat gambaran alur kerja dari ide yang terpilih agar mudah dipahami oleh anggota tim lainnya.

3.         Tahap Pembentukan Tim  dan  Manajemen Projek (Collaboration)

Pada tahap ini murid menentukan siapa yang bertanggung jawab atas masing-masing tugas projek, menentukan batas waktu dalam mengerjakan tugas projek dan menyepakati  alat berkomunikasi untuk memastikan semua anggota kelompok memiliki pemahaman yang sama.

4.         Tahap Eksekusi  dan  Iterasi (Critical Thinking & Creativity)

Pada tahap ini murid membuat Prototipe, melakukan uji coba internal jika menemukan kesalahan dapat melakukan perbaikan secara cepat. Selanjutnya memberikan prototipe kepada calon pengguna (pendidik) untuk melihat bagaimana mereka berinteraksi dengannya secara nyata.

5.                  Tahap Diseminasi  dan  Umpan Balik (Communication) [o7] Mengkomunikasikan hasil kerja projek dengan mempresetasi di depan kelas. Memberi kesempatan kepada murid-murid lain untuk menerima saran sebagai berbaikan. Tugas projek disebarkan luaskan ke media sosial (youtube).

KEUNGGULAN DAN KEBAHARUAN

Keunggulan dan Kebaharuan inovasi MANTRA PRO dibandingkan dengan  pembelajaran yang dilakukan sebelumnyanya. Kegiatan pembelajaran sebelumnya lebih di dominasi guru, kurang memaksimalkan potensi yang dimiliki murid, sehingga  murid terkesan hanya sebagai obyek dalam pembelajaran. Namun dalam inovasi MANTRA PRO pendidik sebagai fasilitator, murid subyek dalam pembelajaran sehingga dapat dijelaskan keunggulan dan kebaharuan dari keterampilan 4C dalam pembelajaran berbasis projek seperti: 1. Murid diarahkan untuk dapat berpikiran kritis yaitu Problem-Solving Realistik. Keterampilan 4 C yang diterapkan dalam tugas projek  siswa diarahkan untuk memecahkan masalah yang dihadapi berdasarkan hasil penyelidikan atau percobaan;2. Melatih kreativitas murid  bukan hanya sekedar membuat karya namun akan  menjadi Inovasi dan Orisional. Dalam kerja projek ini murid diberi baberapa jenis tugas projek  namun murid boleh memilih tugas projek yang berbeda dengan kelompok yang lain, murid diberi kebebasan dalam menyelesaikan tugas sehingga memeperoleh produk yang baru;3. Pembagian tugas dalam kelompok  sehingga dapat bersinergi dan kepemimpinan kolektif. Untuk meyelesaikan tugas projek, murid berbagi peran dalam meyelesaikan, sehingga setiap murid memiliki peran yang berbeda;4.  Terbentuknya  Multimodalitas dan Audiens Nyata dalam melatih Communication (Komunikasi) murid. Dengan menyelesaikan tugas projek ini maka murid telah memilki keterampilan baik dalam memecahkan masalah, kreatifitas, berkolaborasi serta mengkomunikasi.

 

B.       TUJUAN

Adapun tujuan penggunaan keterampilan 4C dalam pembelajaran berbasis projek adalah melatih:

1.                   Melatih murid menyelesaikan masalah dalam dunia nyata .

2.                   Memberi ruang kepada murid untuk menghasilkan produk , memberi keberanian untuk melakukan eksperimen dan belajar kegagalan selama membangun projek .

3.                   Melatih murid dalam bekerjasama dalam kelompok yang memiliki latar belakang  yang berbeda, bertanggung jawab terhadap tugas projek .

4.                  Melatih Kemahiran murid dalam berkomunikasi (public speaking) juga berkomunikasi menggunakan pelbagai platform .

 

 

 

C.       MANFAAT

1.             Bagi murid

a.       Murid menjadi subjek aktif yang mengonstruksi pengetahuannya sendiri, bukan sekadar objek yang disuapi informasi.

b.      Keberhasilan menyelesaikan tugas projek dan mempresentasikan (Communication) membangun rasa bangga dan percaya diri.

c.       Keterampilan kolaborasi dan berpikir kritis adalah soft skills utama yang dicari di dunia kerja modern. Murid memahami relevansi antara teori di buku dengan aplikasi nyata di lapangan, sehingga motivasi belajar meningkat.

2.                           Bagi Pendidik

a.       Pendidik tidak lagi terbebani menjadi satu-satunya sumber kebenaran (sage on the stage), melainkan menjadi fasilitator dan mitra belajar bagi murid (guide on the side).

b.      Merancang projek yang mengintegrasikan 4C menantang pendidik untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menyusun strategi pembelajaran.

c.       Pendidik dapat menilai murid tidak hanya dari hasil akhir (nilai ujian), tetapi juga dari proses, sikap, dan karakter yang muncul selama projek berlangsung.

d.      Kolaborasi dalam projek menciptakan interaksi yang lebih personal dan apresiatif antara pendidik dan murid.

3.                           Bagi sekolah

a.       Sekolah menghasilkan lulusan yang tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga cakap secara sosial dan emosional (cerdas komprehensif).

b.      Lingkungan sekolah menjadi lebih kolaboratif dan inovatif karena adanya interaksi aktif antarwarga sekolah melalui berbagai projek.

c.       Sekolah yang menerapkan 4C secara efektif biasanya memiliki portofolio karya murid yang nyata, yang dapat dipamerkan kepada masyarakat atau diikutsertakan dalam kompetisi inovasi.

d.      Sekolah mampu menjawab tantangan zaman dengan menerapkan pembelajaran yang kontekstual dan sesuai dengan kebutuhan industri maupun masyarakat global.

D.       HASIL  (OUTPUT) INOVASI

Adapun hasil yang diperoleh setelah penggunaan keterampilan 4 C dalam pembejaran berbasis projek yang dilaksanakan di kelas 9 yaitu kelas 9A-9E dengan jumlah murid 41-43 yang dibagi dalam 8 kelompok  adalah sebagai berikut:

1.        Sebanyak 80-100 %  murid  ( dalam kelompok) dapat berargumen berbasis data hasil projek

2.           Sebanyak 75- 100 % produk  yang dihasilkan berdefferensiasi baik proses maupun produk.

3.    Sebanyak 100 % produk  yang dihasilkan merupakan hasil kerjasama dari anggota kelompok.

4.                 Semua murid (100%)/ kelompok mampu menyampaikan/ mempresentasikan hasil karya dengan lancar tenang serta menyebarluaskan ke media sosial.

 



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.